Daerah Bogor dapat diklasifikasikan sebagai daerah dataran tinggi, sehingga daerah ini ideal sebagai daerah perkebunan. Dari situs bi.go.id, Bogor, meliputi Kabupaten Bogor, daerah puncak, dan kota Bogor itu sendiri, merupakan daerah yang memiliki potensi panen untuk komoditas sayuran, dengan pangsa lebih dari 5%,  serta memiliki potensi yang merata dengan daerah lainnya di Jawa Barat untuk tanaman palawija, termasuk ubi kayu yang merupakan basis utama produksi palawija untuk daerah kabupaten Bogor, Ciamis, Tasikmalaya, dan Purwakarta, dan padi. Daerah Bogor juga merupakan salah satu daerah penghasil komoditas peternakan seperti kerbau, kambing, dan babi dengan pangsa melebihi 10%, serta merupakan wilayah utama peternakan ayam petelur, dengan kontribusi melebihi 10% dari total di Jawa Barat.

Berdasarkan data yang ada di Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bogor merupakan daerah yang memiliki potensial dalam hal komoditi sayuran. Hal ini didasari oleh data-data yang diperoleh tentang hasil pertanian tanaman pangan dalam ruang lingkup padi, jagung, dan gandum, serta diperoleh data atas beberapa komoditi lainnya seperti wortel, ketimun, kembang kol, kacang panjang, kangkung, bawang daun, cabe, dan bayam yang mempunyai luas daerah yang cukup besar. Walaupun luas daerah tidak berkorelasi secara linier terhadap kuantitas produksi, serta pemilihan komoditi yang bergantung pada tren pasar, berdasarkan data tahun 2007, kabupaten Bogor mengalokasikan 254 Ha untuk wortel, 1085 Ha untuk ketimun, 5 Ha untuk kembang kol, 1366 Ha untuk kacang panjang, 1784 Ha untuk kangkung, 574 Ha untuk bawang daun, 458 Ha untuk cabe, dan 1171 Ha untuk bayam. Dalam hal ini, ketimun merupakan komoditas yang memiliki pola spasial kekhasan dan perkembangan di kabupaten/kota bogor berdasarkan data yang diperoleh dari bi.go.id.

Untuk komoditas buah-buahan, daerah Bogor memiliki kekhasan untuk durian, rambutan, pepaya dan markisa. Karena keterbatasan data, paragraph ini tidak dapat diekspansi.

Bogor sendiri memiliki pangan yang cukup khas, yaitu talas yang terbagi menjadi 4 bagian, yaitu talas sutera, talas bentul, talas ketan, dan talas mentega. Talas Sutera memiliki daun yang berwarna hijau muda dan dan berbulu halus seperti Sutera. Di panen pada umur 5-6 bulan. Umbinya kecoklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar. Talas Bentul memiliki umbinya lebih besar dengan warna batang yang lebih ungu di banding Talas Sutera. Talas Bentul dapat dipanen setelah berumur 8-10 bulan dengan umbi yang relatif lebih besar dan berwarna lebih muda kekuning-kuningan. Talas Ketan warna pelepahnya hijau tua kemerahan. Untuk talas mentega sendiri dikenal dengan nama lain talas hideung atau talas gambir. Komoditas talas itu sendiri dibudidayakan di daerah Bogor dan Malang, walaupun talas itu sendiri tumbuh di hampir seluruh kepulauan di Indonesia.

Berdasarkan data dan argumen yang telah disampaikan, Bogor adalah daerah yang ideal untuk perkebunan, karena letaknya secara geografis di dataran tinggi. Serta, Bogor merupakan daerah pemasok yang cukup penting di wilayah Jawa Barat untuk bagian ternak, dengan catatan perhitungan hanya berdasarkan kuantitas, dan tidak memfaktorkan kualitas serta kebutuhan masyarakat ke dalam pembuatan kesimpulan.

Note: sori kalau data yang digunakan sedikit outdated, sebenarnya data yang lebih akurat bisa diperoleh di sini. tetapi berhubung internet di tempat saya akses sedikit “error?lemot?”, jadi hanya dapat menyediakan opini seperti ini…